Komitmen Besar, Anggaran Keaksaraan di Jatim Terbesar

adminpaudni February 24, 2012 Comments Off dibaca 1,150 kali
Komitmen Besar, Anggaran Keaksaraan di Jatim Terbesar

Sebagai wilayah dengan penduduk buta aksara terbesar di Indonesia, Jawa Timur menyatakan komitmen memberantas buta aksara dengan mengalokasikan anggaran Rp128 miliar untuk program keaksaraan. Ini merupakan anggaran keaksaraan terbesar di Indonesia, dibandingkan daerah lain.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Seksi Pendidikan Masyarakat dan Kesetaraan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Eka Ananda, sebanyak Rp113,33 miliar anggaran keaksaraan berasal dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Provinsi Jawa Timur, sementara Rp14,99 miliar berasal dari APBD kota/kab di Jawa Timur (Jatim). Bila dibandingkan dengan dana keaksaraan dari Pemerintah Pusat untuk Jatim yang hanya sekitar Rp18 miliar, tentu anggaran ini jauh lebih besar.

Menanggapi hal ini, Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat Ditjen PAUDNI Ella Yulaelawati menyatakan apresiasi yang besar kepada Jatim. “Ini sudah melebihi dari kesepakatan soal prosentase pembagian dana atau pola sharing yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten, yaitu 50:30:20 persen,” kata Ella.

Ella bahkan menyatakan anggaran keaksaraan di Jatim hampir setara dengan dana dekonsentrasi keaksaraan yang disebar ke semua daerah di Indonesia. “Kami harap dengan ini buta aksara di Jatim dapat tuntas tahun ini. Kami juga berharap ini dapat menjadi motivasi daerah lain untuk memiliki komitmen yang sama dalam memberantas buta aksara,” ujarnya.

Jatim merupakan provinsi dengan penduduk buta aksara terbesar di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan di Jawa Timur ada 3,4 juta orang buta aksara. Pada Rapat Koordinasi Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Ditjen PAUDNI) di Bandung, Selasa (14/2), ditetapkan sasaran program keaksaraan ialah berada pada usia 15-59 tahun. Dengan demikian, sasaran keaksaraan di Jatim saat ini sebanyak 1,9 juta orang.

Komitmen belum merata

Meski secara keseluruhan Jatim menyediakan anggaran yang besar, Eka menyatakan belum seluruh kota/kabupaten di Jatim memiliki komitmen yang sama besar.

“Dari 38 kota/kab di Jatim, ada dua wilayah, yaitu Banyuwangi dan Surabaya yang tidak mengalokasikan dana untuk program keaksaraan. Ini sangat kami sayangkan. Kami akan mengkonfirmasi, apakah betul pemerintah setempat benar-benar tidak mengalokasikan anggaran, atau memang belum dipublikasikan,” kata Eka.

Banyuwangi merupakan daerah yang masih berpenduduk buta huruf. Sementara itu dinyatakan Eka, Surabaya juga diketahui masih berpenduduk buta huruf, meski telah memproklamirkan sebagai daerah bebas buta huruf.

“Hasil pendataan yang dilakukan Universitas Negeri Surabaya pada November lalu mengungkap masih ada buta aksara di Surabaya. Letaknya ada di perbatasan. Kami belum mengetahui lebih lanjut apakah itu penduduk lama atau imigran dari daerah lain,” ujar Eka. (Dina/HK)