Kalimantan Tengah akan menjadi tuan rumah peringatan hari aksara internasional (HAI) ke-48 di Indonesia. Peringatan HAI kali ini menjadi istimewa karena tahun ini merupakan akhir Dekade Keaksaraan atau United Nations Literacy Decade (UNLD). Artinya, negara-negara akan memberikan laporan mengenai hasil pemberantasan buta aksara yang telah dilakukan.
Menjelang perayaan HAI, Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat Ella Yulaelawati menghimbau kepada pemerintah daerah untuk mempersiapkan data terbaru buta aksara. “Mudah-mudahan tahun ini buta aksara bisa tuntas,” ujar Ella.
Sejak 8 September 1964, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan 8 September sebagai Hari Aksara Internasional. Penetapan tersebut dilakukan untuk mengingatkan dunia tentang pentingnya budaya literasi.
Sebagai upaya keberaksaraan, UNESCO mencanangkan UNLD pada skala internasional pada tahun 2003-2012. Dekade ini ditujukan untuk meningkatkan tingkat melek aksara dan memberdayakan seluruh masyarakat.
Pada awal UNLD, tahun 2003, ada 15,41 juta orang buta aksara di Indonesia. Pada tahun 2010, jumlah itu menyusut menjadi 7,54 juta orang. Artinya, Indonesia lebih cepat melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) yang menyepakati penurunan 50 persen buta aksara pada tahun 2015.
Anugerah
Pada HAI tahun ini, Ella mengharapkan pihak Indonesia bisa meraih penghargaan skala internasional di bidang keaksaraan. Sebagai bentuk dukungan, Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat (Ditbindikmas) akan memberi bantuan non materi dalam pengajuan proposal penerima anugerah tersebut, jika dibutuhkan.
Ella menyatakan optimistis Indonesia bisa mendapatkan penghargaan. “Selama ini yang mendapatkan penghargaan seringkali dari Bangladesh, India, Pakistan. Padahal penyelenggaraan keaksaraan di Indonesia itu lebih bagus, hanya sayang jarang ada yang mengajukan proposal,” ujar Ella. (Dina/HK)







