Batung Bingar Bukan Saja Mempercepat Penuntasan Buta Aksara

warta November 26, 2012 Comments Off dibaca 673 kali
Batung Bingar Bukan Saja Mempercepat Penuntasan Buta Aksara

Dirjen PAUDNI Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, psikolog berinteraksi dengan peserta didik PKBM Tunas Bangsa untuk belajar batung bingar.

SURABAYA. “Bapak harus sebut nama Bapak, sekaligus nama teman disebelahnya,” demikian disampaikan Direktur Jenderal PAUDNI, Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog saat memberi contoh bagaimana strategi tutor melaksanakan pembelajaran Batung Bingar di PKBM Harapan Bangsa, desa Sumber, Kabupaten Probolinggo, Kamis (16/11). “Satu sama lain harus hafal,” lanjut Dirjen PAUDNI, yang akrab dipanggil Reni Akbar – Hawadi ini.

Selama lebih dari satu setengah jam, Dirjen PAUDNI beserta rombongan dari BP PAUDNI Regional II Surabaya mencermati berlangsungnya proses pembelajaran yang dipimpin Awang, Tutor Batung Bingar yang lulusan S1 Teknik Industri. Suasana pembelajaran sedemikian hidupnya sehingga interaksi antara Tutor dengan Warga Belajar berjalan mengalir dan proses pembelajaran berlangsung menyenangkan.

Selain karena membahas persoalan sehari-hari Warga Belajar, bahasa pengantar yang digunakan untuk menyampaikan materi adalah bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa ibu. Penggunaan bahasa ibu, di lokasi kunjungan, menciptakan interaksi yang luar biasa hidup antara Tutor dengan Warga Belajar. Interaksi ini digunakan Tutor untuk mengeksplorasi cara berpikir Warga Belajar sehingga memudahkan mereka mengenal dan memahami sesuatu berdasarkan hasil temuannya sendiri. Dengan begitu, Warga Belajar akan merasa lebih percaya diri atas kemampuannya sendiri, yang akhirnya membantu mereka dalam men­capai keberhasilan belajar. Sebagaimana diketahui, batung bingar ini mengedepankan peran Tutor untuk menciptakan proses pembelajaran dengan pendekatan inkuiri, selain juga mempertimbangkan pengalaman berbahasa Warga Belajar, dalam hal ini adalah bahasa ibu.

Batung Bingar itu sendiri adalah pendekatan sekaligus metode penuntasan buta aksara yang dikembangkan oleh BP-PAUDNI Regional II Surabaya, yang memiliki kelebihan utama pada percepatan penguasaan kompetensi membaca, menulis, dan berhitung untuk pemula. Batung bingar itu sendiri kepanjangan dari mem­baca, menulis, berhitung, berbicara dan mendengar. Lima kompetensi inilah yang diramu oleh Tim Pengembang Model BP-PAUDNI Regional II Surabaya menjadi satu kesatuan kegiatan yang memungkinkan para penyandang buta aksara dapat mempercepat penguasaan keaksaraan. Dalam waktu 12 (dua belas) hari, penyandang buta aksara dijamin telah menguasai kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dalam bahasa Indonesia. (ekko/bppaudnireg2)